MARCH IN JUNE - DUMPED
Cara Tuhan memberi bahagia dan rasa sakit sungguh unik. Begitu pun bagaimana Dia mempertemukan dan memisahkan manusia, sangat tak terduga.
June, gadis yang akan merayakan ulang tahun ke-18 nya sebulan lagi, baru saja ditikam ulu hati nya.
"Ayo berpisah." Ucap seorang pria di ujung telfon. June terbelalak diam. Dia berusaha mencerna apa yang baru saja di dengarnya.
"Huh..? Aku tidak mengerti.." Balas gadis itu.
"Ayo berpisah! Apa yang tidak kamu mengerti?" Kata sang pria.
"Bukan. Aku tidak mengerti kenapa? Kita baik baik saja pagi tadi. Apa ini candaan?" Pria di ujung telfon terdiam beberapa detik. Membuat June dapat dengan jelas mendengar detak jantung nya.
"Aku sedang tidak ingin bercanda, June.." Seketika ucapan pria itu membuat suasana benar-benar muram. June, sekali lagi berusaha menenangkan dirinya. Menenggak salivanya sendiri sebelum mulai membuka mulutnya kembali.
"Lalu? Ada apa tiba-tiba sekali? Setidaknya tolong beri aku alasan!" Kata gadis itu sedikit berteriak.
"Aku hanya tidak ingin karir ku terhambat karena mu!"
"Setelah lulus, aku sudah pasti akan pergi ke sekolah penerbangan, sedangkan kamu? Aku tak tahu apa yang akan kamu kerjakan. Lagi pula, June, ibu ku sudah tak menyukai mu. Kau juga menyadari itu kan? Jadi apa gunanya kita berhubungan?" Lanjut pria itu.
June diam. Mukanya memerah dan bibirnya gemetar. June tidak tahu harus berkata apa dan bereaksi seperti apa.
"Akan kututup telfonnya! Tolong jangan hubungi aku lagi!" Panggilan itu berakhir sepihak.
Rei. Pria di ujung telfon tadi adalah Rei, kekasih June. Berawal dari teman satu kelas, hingga 17 bulan menjalin asmara. Rei adalah ketua osis dan juga pemain anggar yang cukup handal di sekolahnya. Dia berkulit bersih, tinggi, rambutnya hitam dan selalu disisir rapi, dengan telinga bulat serta hidungnya yang tajam.
Rei adalah orang pertama yang menaruh hatinya pada June. Menilai dari penampilannya saja, pria itu sudah terlihat kaku dan membosankan, sebab itulah June tak pernah sekali pun meliriknya. Namun, Rei bukanlah orang yang mudah menyerah. Dia membidik June dari segala arah yang memungkinkan. Jika meleset, dia akan membidik lagi. Tetap begitu hingga June tak memiliki ruang untuk menghindar. Pria yang sangat ambisius.
June yang sedari tadi membeku dan masih mencoba memproses segalanya, tiba-tiba meraih ponselnya kembali. Berusaha menghubungi pria yang baru saja mencampakkannya. Namun, seberapa kerasnya gadis ini mencoba, tetap tidak ada jawaban. Dia kembali terdiam sambil memeluk erat ponselnya. Bertanya-tanya apakah ini gurauan semata atau benar terjadi.
Bagi June, Rei adalah orang asing pertama yang memperkenalkannya dengan cinta. June adalah tipe pemilih, namun pertemuannya dengan Rei membuat dinding beku hatinya sedikit demi sedikit mencair. Kurang lebih 100 hari lamanya, Rei berusaha membuktikan perasaannya. Membantu June dalam kegiatan sekolah, menjemput dan mengantarnya pulang, dan bahkan membantunya mendapatkan pekerjaan paruh waktu. June sempat berpikir semua itu berlebihan, namun tak dapat disangkal, dia menyukai nya.
Namun, hubungan mereka memang mulai merenggang beberapa bulan terakhir. Rei yang tiba-tiba mengabaikan pesan June, tak lagi berkunjung ke rumah June, bahkan mulai mengacuhkan June saat Rei sedang bersama teman wanitanya. June sempat ber anggapan bahwa mungkin Rei lelah dan butuh waktu sendiri – karena dia adalah ketua osis, anggota team anggar dan juga sedang duduk di kelas 3, jadi banyak sekali tugas yang harus dikerjakan - akhirnya June sering tak mempermasalahkannya. Bahkan terakhir kali saat ibu Rei terang-terangan melarang June datang berkunjung, gadis itu masih tak menangkap sinyalnya. Sungguh cinta pertama yang menyesakkan.
Malam ini, udara serasa menusuk sela nektar kulit. Namun, udara yang menusuk itu dirasa June jauh lebih baik dibanding perasaanya yang sedang bercampur aduk saat ini. Gadis itu, sedang terduduk memangku kaki di ruang makan dengan pandangan kosong. Indra perasa June rasanya menolak untuk bekerja. Tubuhnya masih terpusat pada rasa sakit di ulu hatinya. Hingga mengabaikan makanan kesukaannya yang telah tersaji didepan mata.
"Makanlah sedikit.." Ucap wanita yang duduk disampingnya.
"Aku tidak mengerti mom.." Sahut June.
"Apa tidak ada alasan yang sedikit lebih masuk akal baginya? Apa tidak bisa kita selesaikan saja semua baik-baik? Mengapa dia memilih menyakitiku dengan cara seperti ini?" Sambungnya kemudian. Wajahnya memerah, nafasnya berat, dan matanya terlihat lembab.
"Kini dia benar-benar mencampakkan ku. Dia sama sekali tidak membalas pesan ataupun telfon ku! Apa kau percaya kegilaan ini, Mom?" June tertawa, namun air mata mengalir deras di tiap ujung matanya.
"Mom mengerti. Tapi tubuhmu juga memerlukan asupan. Ayo makanlah sedikit.." Balas wanita yang tak lain adalah ibu June. Wanita itu mengusap usap kepala dan punggung June. Sentuhannya terasa hangat. Sedikit menenangkan perasaan gadis muda itu.
Perlahan June menyeka air matanya dan mulai mengarahkan sendok menuju mulutnya. Satu suap, dan ya tentu saja, air matanya pun ikut bekerja. Matanya kini mulai terasa seperti bendungan yang tak dapat lagi membendung muatan didalamnya. Mom yang mengerti bahwa June butuh ruang hanya bisa terus mengusap punggung gadisnya.
Hati gadis remaja itu, benar benar hancur..

Part 2!
ReplyDeleteCan't wait for the sequel 😍
ReplyDeleteplease part 2 .. Cukup bkin kepoo .. Awesome
ReplyDeleteAkhirnya rilis😃 Gak sabar nunggu Jum'at depan😃
ReplyDeleteDitunggu part selanjutnyaa
ReplyDelete