MARCH IN JUNE - BIRTHDAY

 

 

Sebulan telah berlalu. Dan kabar memang cepat menyebar. Tak luput perpisahan June dan Rei. Sahabat June benar-benar kehilangan kesabaran setelah mendengar beritanya. Mereka seolah akan meledakkan kepala pria jangkung itu kalau tak dihalangi oleh June. Sungguh tak ada yang dapat memahami, bagaimana seseorang yang seolah-olah akan memberikan dunia kepada June, seketika memalingkan tubuhnya hanya dalam semalam, dan dengan alasan yang tampak terlalu dibuat-buat?

June pada dasarnya tidak menyukai perhatian publik. Menyebarnya berita ini tentu bukan hal yang disukai June. Padahal, esok adalah hari yang biasanya sangat dinanti gadis itu. Hari kelahirannya. Namun tragedi nya baru-baru ini membuat ia merasa semakin mengecil dan ingin menghilang dari bumi. Dia sungguh berharap tak ada seorang pun yang akan mengingat atau menyelamatinya esok. Karena bagaimanapun, semua hal ini akan kembali membuatnya mengorek luka lama. Mengingat Rei. June, sungguh benci itu.

Jam telah menunjukkan pukul 01.26 dini hari. June masih terjaga. Semenjak hari pahit itu, June tidak pernah tidur tepat waktu. Terlebih lagi, ini adalah hari ulang tahunnya. Dia benar-benar takut akan ada yang mengingatnya. Luka hatinya masih basah, jadi dia tak ingin merayakan apapun.

'rrt..rrt..rrt' tiba-tiba sebuah ponsel berdering, mengejutkan sang pemilik. Dengan cepat June melihat ponselnya. Ada sebuah panggilan masuk dan hanya sebuah nomor tertera disana. Tanpa nama yang tersemat. June ragu, siapa yang mengetahui nomornya dan menelepon selarut ini? Dia memutuskan tak menjawab panggilan itu.

'rrt..rrt..rrt' ponselnya kembali berdering. Nomor yang sama yang sebelumnya menelepon. Dengan hati-hati, June terpaksa menjawab telepon itu.

"Halo..?" Ucap June ragu.

"Selamat ulang tahun." Itu adalah suara pria yang jelas dikenali June. Tak ingin gegabah menyimpulkan, June bertanya.

"Rei..?"

"Jadi kamu menghapus nomorku?" Sahut pria itu. Ya, itu Rei. Mata June terbelalak, alisnya mengerut. June kebingungan mengutarakan kata-kata.

"Bagaimana kamu bisa menghubungiku setelah benar-benar menghilang?" Tanya June dengan suara bergetar.

"Aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Apa salah?" June kembali mengernyit kan dahinya lebih dalam, membuang nafas kasar dan berkata.

"Apa yang salah? Rei, apa kamu sadar dengan yang barusan kamu katakan?!"

"June.. Ayolah tidak bisakah kamu lupakan semuanya? Aku bisa menjadi sahabat, dan bahkan kakakmu sekarang. Dan aku bisa menjaga mu, menyayangi mu kapan pun. Bukankah itu akan lebih baik?" June mendongakkan kepalanya sembari tertawa pahit. Gadis itu serasa tak mempercayai apa yang baru saja di dengarnya. Air mata kemudian mengalir membasahi pipinya. Perasaannya serasa digulat paksa oleh keadaan. Hatinya ter ombang-ambing tak tahu apa yang sesungguhnya ia rasakan.

"Apa kau tahu seberapa besar aku merindukanmu? Aku sungguh merindukanmu! Ini semua menyiksa ku, Rei! Ini sungguh menyiksa ku! Benarkah tak ada cara agar aku dapat kembali bersama mu?" June, dengan lirih memohon. June tak pernah memohon seperti ini, namun setelah mendengar suara Rei, pertahanannya runtuh begitu saja. Suasana hening sesaat. Namun keheningan ini serasa menyayat hatinya.

"Tidak June." Balas Rei.

"Aku tidak bisa kembali. Ini memang menyakitkan, bahkan untukku juga. Namun, kamu harus membiasakan segalanya." Pria itu kembali memasang pagar pembatas diantara keduanya. June hanya terdiam. Air matanya terus turun.

"Istirahatlah. Aku akan meneleponmu besok. Sekali lagi, selamat ulang tahun. Berbahagialah!" Lagi, panggilan itu berakhir sepihak. June menumpahkan air mata berharganya. Menangis tersedu-sedu sambil mencengkram dadanya. June merasa sedang dipermainkan keadaan. Tak adil bagi June, karena apa yang sudah diperbuatnya hingga layak mendapatkan sakit sedemikian rupa?

Sinar matahari pagi menerobos disela hordeng coklat muda. Suara kicau burung samar-samar terdengar. Gadis yang baru saja ber umur 18 tahun itu tertidur dengan ponsel ditangan kanannya. Serta, ada jejak tangisannya semalam, yang telah mengering di antara mata dan hidungnya. Badan gadis itu tergerak karena getaran tiba-tiba dari ponselnya.

Matanya terbuka perlahan, berusaha menangkap visualisasi ruangan tidur yang tercampur cahaya. Jarinya kemudian bergerak menyalakan ponsel yang sejak semalam digenggamnya. Pemberitahuan di ponsel bahwa ada satu pesan sedikit mengejutkannya. Segera, gadis itu membuka pesan siapa itu.

'Selamat pagi. Semoga tidurmu nyenyak semalam!' Itu adalah pesan yang dikirim oleh nomor yang meneleponnya semalam. Mata June menatap kosong. Dia termenung sejenak, berfikir. Apakah perlu dia membalas pesan itu atau tidak?

'Sangat nyenyak!' June berniat membalas pesannya singkat dan ketus seperti itu, namun berakhir dengan..

'Hm..Tidurku cukup nyenyak. Apa tidurmu nyenyak, Rei?' June benar-benar menjadi kikuk.

'Tentu!' Balas Rei singkat.

'Syukurlah kalau begitu, Rei. Aku senang mendengarnya!' Balas June kemudian. Walaupun dalam pesan itu June terlihat baik-baik saja, namun itu sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan saat ini.

Gadis itu kemudian terduduk, mengikat rambut cokelat sebahunya, mengambil kacamata, dan melakukan sedikit peregangan. Kemudian ia melangkahkan kakinya ke dapur, mengambil sebuah gelas kaca berukuran sedang dan menuangkan penuh air mineral kedalamnya. Menenggaknya perlahan, sambil sesekali melihat taman belakang rumahnya.

'rrt..rrt..rtt' ponselnya kembali berdering. June memeriksanya dan ya, lagi-lagi itu Rei.

"Ha...."

"Bersiaplah akan kujemput." Ucap Rei singkat.

"Ah? Kemana kita akan pergi? Halo? Rei?" Panggilan itu kembali terhenti sepihak. Gadis itu terdiam kebingungan. Ia berpikir apakah ini akan membawa kabar baik?

Cuaca hari itu terasa hangat. Matahari tak begitu terik, angin tak begitu kencang. Seolah semesta ikut memberi peran serta kebahagiaan pada June.

June, adalah gadis yang tidak terlalu memiliki ketertarikan terhadap gaya feminin. Pakaian yang dikenakan hampir selalu setipe dan yang jelas, ukurannya selalu dua atau bahkan tiga kali lipat ukuran asli tubuhnya. Namun, kali ini dia ingin terlihat cantik dengan gaya feminin. Masalahnya, June tak memiliki pakaian yang cocok untuk mendukung keinginannya. June menyangga kepalanya dengan jari jemarinya, ini jelas lebih membuatnya pusing dibanding ujian matematika.

Sampai tiba-tiba dia teringat sesuatu. Mom pernah menghadiahinya sebuah gaun biru. Itu adalah sebuah gaun dengan tali tipis untuk penyangganya, dan memiliki motif bunga-bunga kecil berwarna putih. Panjang hingga lutut, dengan sedikit belahan di samping kiri. June tersenyum lebar ketika akhirnya menemukannya kembali.

Gaun itu belum pernah dipakai nya sekali pun, karena June merasa tidak percaya diri ketika memakai nya. Begitu pula kali ini. Dia terus melihat dirinya di depan cermin. Tak yakin akan benar memakai nya atau mengganti nya saja.

"Wah, akhirnya gaun itu terpakai." Ungkap seseorang dibelakang June. Gadis itu berbalik spontan.

"Ah,Mom." Ternyata itu Mom.

"Apa menurutmu aku pantas mengenakannya?" Tanya June sembari berputar sedikit. Membiarkan Mom menilai penampilannya.

"Tentu saja! Putri ku sangat cantik mengenakan apapun, tak terkecuali gaun ini." Balas Mom sambil mengaitkan rambut june ke belakang telinga.

"Aku ingin tampil cantik, tapi aku tak yakin dengan gaun ini.." Setelah melihat ekspresi June mengatakan hal itu, Mom tersenyum hangat. Mom keluar dari kamar June. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa cardigan miliknya pribadi. Cardigan putih dengan renda manis di ujung ujung lengannya.

"Pakailah ini jika kamu tiba2 merasa tak percaya diri. Nanti kamu juga boleh melepasnya lagi jika telah merasa nyaman dengan gaun itu." Ujar Mom. June mengerutkan dahinya, sedikit bingung.

"Apa... ini akan membantu?" Tanyanya bingung. Mom kembali tersenyum.

"Tentu putriku. Ini seperti jimat. Cardigan ini akan membuat mu lebih percaya diri. Dan yang paling penting, sama sekali tak mengurangi kecantikan gaunnya maupun kecantikan mu." Goda Mom sambil mencolek hidung June. Gadis muda itu tersenyum seketika sambil memeluk ibunya erat.

"Oh Mom, terimakasih karena selalu ada untukku."

Suara klakson mobil menyeruak masuk ke dalam kamar June. Gadis itu menyibak hordeng dan mengintipnya dari jendela. Sebuah mobil merk Aston Martin DB5 dengan warna Silver Birch terhenti di depan rumahnya. Ya, itu adalah tunggangan si pria.

June segera memasang sepatu kets putih dan menyahut tas hitam kecilnya. Berpamitan pada Mom sambil berlari kecil. Nafasnya sedikit tak beraturan. Debaran jantung nya meningkat. Setelah sekian lama, ini adalah pertemuan June dan Rei kembali.

Di benaknya berkecamuk. Apakah dia siap? Haruskah dibatalkan saja? Dari sudut pandangnya kini, terlihat siluet Rei. Menyebabkan jantung nya berdebar lebih kencang. Sampai lamunan June terhenti karena klakson mobil retro itu kembali berbunyi.

June segera berlari menuju mobil. Membuka pintunya perlahan, terduduk sambil berkata..

"Maaf sedikit lama.." Dia mengatakannya sembari menghindari kontak mata. Gadis itu seperti tak sanggup menatap mata Rei.

Sebuah tangan tiba-tiba melingkar ke bahu kanannya. Menarik sabuk pengaman dan mengunci nya. Kontak mata yang dihindarinya sedari awal, tak dapat dipertahankan lagi.

"Cantik sekali." Pria itu tersenyum manis sekali. June terdiam tak dapat berkata sepatah kata pun. Mata nya berotasi ke seluruh penjuru wajah pria dihadapannya.

Mata coklat nya, hidung tinggi nya, bibir tipis nya, bahkan aroma tubuhnya benar benar membuat gadis itu berdebar.

"Akan kemana kita, Rei?" Sahut spontan gadis itu. Seolah berusaha menyadarkan diri nya sendiri. Pria itu tersenyum sembari mengembalikan posisi tubuhnya seperti semula.

"Nanti akan tahu." Ucapnya sambil menyalakan kendaraan kesayangannya itu.

Hari itu Rei membawa June pergi ke tepi sungai, tempat mereka dulu biasa berpiknik. Mereka berbicara santai, Rei tertidur sebentar dipangkuan June dan makan makanan ringan kemudian. Rei mengeluarkan buku dari dalam tas nya dan mulai membaca. June hanya mengamati Rei. Namun pria itu sadar bahwa dia tengah di amati.

"Ada yang ingin dibicarakan, June?" Ucap pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibaca.

"Rei.. Apa kita baik baik saja sekarang?" June hati hati bertanya.

"Tentu. Bukankah kita memang baik2 saja?" Pria itu menjawab. June tersenyum sekilas. Namun jawaban itu masih dirasa mengganjal. Banyak sekali pertanyaan di kepalanya, tapi tak yakin harus bertanya atau tidak.

Karena bagi June, ini adalah momen yang sangat ia rindukan setelah sekian lama. Mengobrol santai tanpa perkelahian. Walau firasatnya mengatakan ini hanya sementara, namun June tak ingin merusak kebahagiaan yang tampak semu itu.

Comments

  1. next episode semoga mereka balikan😎

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan dibikin balikan please): Kesian june):

      Delete
  2. Selalu gemes sama ending nya . . Nice ! Gk sabar pt.3 . .

    ReplyDelete

Post a Comment