MARCH IN JUNE - CONCERT
"March...?" tanya gadis itu spontan.
"Ding dong deng, BINGO! Akhirnya kau mengingatku, June. ha ha ha," balas si pria.
Si gadis tersenyum kecil. Sedikit lega, bahwa itu bukanlah orang asing seperti yang dipikirkannya beberapa menit lalu.
"Apa ada keperluan March? Mengapa selarut ini menelepon? Dan bagaimana kau dapat nomorku?"
"June ayolah. Aku tahu kau memang ketus, tapi sejak kapan kau menjadi se kaku ini?"
Ucapan pria itu membuat June sedikit terkejut.
"Bukankah itu pertanyaan wajar, March?" tanyanya karena kebingungan dengan maksud si pria.
"Tidak bagiku! Apa tidak boleh seorang teman menelepon temannya?"
"Dan bagaimana aku dapat nomormu? Tentu saja darimu dulu. Pasti kau sudah melupakannya bukan? Bahkan nomorku saja tidak kau simpan," sambungnya.
Gadis itu terdiam mendengar jawabannya. Pria ini masih sama seperti dulu. Kekanak-kanakan.
"Baiklah baiklah. Karena ini June jadi yah, tak apa. Aku bisa mengerti. Dan kebetulan karena kita juga sedang berbicara, aku jadi mengingat sesuatu. Dua hari lagi, di sekolah kita, akan ada konser musik. Apa kau mau datang?" tanyanya kemudian.
"Konser musik?"
Sejenak gadis itu berpikir.
"Pasti akan sangat banyak orang yang datang. Entahlah March. Aku tak begitu suka keramaian," sambungnya.
"Bagaimana jika kita berangkat bersama? Aku akan menemanimu. Jadi kau tak perlu khawatir akan sendirian nanti," ucap si pria sedikit memaksa.
"Tidak March. Aku sangat bisa datang sendiri. Akupun tak keberatan jika sendirian nantinya. Hanya saja akan terlalu banyak orang dan..."
"Kalau begitu kuberi waktu sampai besok. Pikirkanlah dulu, June."
June diam.
"Tidak perlu tergesa-gesa. Aku hanya ingin kau lebih membuka dirimu sekarang. Dunia tidak se menakutkan yang ada di benakmu, kau hanya harus mencobanya. Tapi apapun keputusanmu besok, aku akan tetap menghargai mu! Meski memang aku berharap kau datang. ha ha ha," sambungnya panjang lebar.
Tak tahu mengapa, namun gadis itu tiba-tiba merasa ucapan March sedikit menghangatkan hatinya.
"Baiklah... Akan kupikirkan dulu," jawab June kemudian.
"Baik, kalau begitu besok akan ku telepon kembali ya! Selamat tidur June.." ucap pria itu.
June kemudian meletakkan kasar ponselnya di atas bantal sisi kanan. Gadis itu berusaha memejamkan mata walau masih terasa sulit.
Sampai telinganya tiba-tiba menangkap sebuah suara. Matanya kembali terbuka, dia berusaha mencari sumber suara yang ternyata berasal dari ponselnya. Seketika June memeriksa.
Gadis itu terkejut karena panggilan teleponnya dengan si pria belum terputus.
"Halo? March? Kau masih belum mematikan telepon nya?" ujar gadis itu panik.
"Astaga, tentu saja belum June..."
"Ada apa March? Apa masih ada yang ingin dibicarakan?"
Ia sedikit merasa tidak enak. Gadis itu kemudian mendengar March sedikit membuang respirasinya kasar.
"Kau kan belum membalas ucapan selamat malamku tadi. Bagaimana bisa aku langsung mengakhiri nya sepihak, June?"
Jawaban March lagi-lagi membuatnya terdiam. Pria ini sungguh berbeda dengan kekasihnya terdahulu.
Pria yang selalu mengakhiri panggilan sepihak, tak peduli lawan bicaranya telah selesai atau ingin menyampaikan sesuatu.
Sedangkan pria ini, untuk sekedar mendengar balasan selamat malam saja, ia bahkan menunggunya dan tak sepihak mengakhiri.
"Ah.. Maafkan aku. Baiklah kalau begitu selamat malam March."
"Selamat malam June. Akan kututup teleponnya."
Begitulah bagaimana pria itu mengakhirinya.
June sedikit terkejut karena selama ini ia terbiasa dengan sikap Rei. Ia bahkan tak lagi memikirkan detail kecil seperti ini - memastikan lawan bicara telah selesai berbicara - perlu dilakukan dalam sebuah percakapan.
Sikap March memang sedikit kekanak kanakan, namun June sedikit terhibur dibuatnya.
Pagi itu, seperti biasa, Mom dan June sedang sarapan bersama.
"Bagaimana kencan mu kemarin? Apa menyenangkan?" tanya wanita itu sembari mengaduk kopi hitamnya.
"Itu bukanlah sebuah kencan Mom. Dan lebih parahnya lagi, perasaanku sangat dibuat bingung. Aku tak tahu apakah aku bahagia atau tidak." ucapnya dengan raut muka masam.
"Jika itu cinta, maka takkan membuatmu bingung June..."
Mom tersenyum dan meminum kopi yang sedari tadi di aduknya. Si gadis kemudian berbalik menatap wanita di seberangnya sambil menaikkan alis dan mengangguk kecil.
"Ya... Itu benar juga."
'rrt...rrt...rrt'
Ponsel si gadis berdering. Itu adalah panggilan masuk dari mantan kekasih tercintanya.
Dari raut wajah June, nampak begitu jelas ia malas mengangkatnya. Dia bahkan menunjukkan layar ponselnya pada Mom. Walau wanita itu sedikit tertawa dibuatnya, ia memberi sinyal untuk tetap menerima panggilan itu.
"Ya, Rei?" sambutnya lesu.
"Apa sudah sarapan?"
"Sedang sarapan, Rei. Kau sendiri?"
"Ya. Tentu saja sudah."
Percakapan yang sungguh membosankan. Gadis itu kemudian teringat bahwa semalam, March mengajaknya pergi ke konser. Ia tiba-tiba memiliki ide akan mencoba mengajak Rei.
"Oh ya Rei. Semalam March menelepon ku.."
"Ada perlu apa dia?" Rei memotong perkataan June.
"Awalnya dia sepertinya ingin mengucapkan selamat ulang tahun padaku, lalu kemudian dia bilang bahwa sekolah kita akan mengadakan konser musik. Rei, bagaimana menurutmu kalau kita..."
"Tidak June. Aku tidak akan pergi. Begitu juga denganmu," pria itu kembali memotong pembicaraan.
Gadis itu bingung mengapa Rei bersikap demikian?
"Apa alasannya Rei? Apa alasan aku tak boleh datang?" tanyanya sedikit kesal.
"Itu hanya akan membuang waktu mu! Konser musik hanya di peruntukkan bagi orang yang tak memiliki pekerjaan!"
June tersentak.
"Dan, June kau bukanlah remaja lagi! Hal seperti ini tak pantas untukmu! Harusnya kau fokus saja mencari kerja, tak perlu memedulikan hal konyol semacam ini!"
Gadis itu semakin kesal dengan jawaban tak masuk akal yang baru didengarnya. Ia berpikir mengapa pria ini selalu mengatur hidupnya seolah dia lah seorang yang berhak.
"Aku sendiri yang akan memutuskan akan pergi atau tidak. Aku hanya mengajakmu itu saja. Jadi..."
"Kamu seharusnya malu, June! Kamu seharusnya mempunyai batasan!"
Pria itu tiba-tiba mengakhiri panggilannya. June mengernyitkan dahi, ia sungguh tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Aku harusnya tahu malu?! Aku harusnya punya batasan?! Apa sebenarnya yang salah dengan kepala pria itu? Apa kepalanya baru saja terbentur di suatu tempat?" ia menggerutu.
Mom kebingungan melihat tingkah putrinya.
"Ada apa June? Apa dia berbuat hal tak masuk akal lagi?" Tanya wanita itu. June tertawa kecil sambil mengiris roti lapisnya.
"Dia menolak ajakan ku untuk pergi ke konser dan bahkan melarang ku pergi juga. Aku benar-benar bingung dengan sikapnya."
"Pergilah. Kau juga harus bersenang-senang. Bermainlah dengan temanmu. Jangan biarkan seseorang menghalangi mu melakukan sesuatu yang kau suka," ucap wanita itu sembari memegang tangan putrinya.
"Menurutmu begitu, Mom?"
"Tentu saja! Sudah sangat lama sejak Mom melihatmu mencari kebahagiaanmu sendiri. Inilah saatnya. Jangan pikirkan siapapun. Pikirkan apa yang menurut hatimu ingin dilakukannya."
Gadis itu tersenyum dan balik menggenggam telapak hangat ibunya.
"Terimakasih karena selalu mendukungku, Mom.."
Hari saat konser itu diadakan telah tiba. Dengan mengendarai mobil Bentley Bentayga warna putih, wanita itu mengantar putrinya.
Gadis itu mengenakan jaket bertudung warna hitam dan celana jeans biru muda, yang jelas keduanya berukuran jauh lebih besar dari ukuran sesungguhnya. Mungkin, hanya ukuran sepatu kets putihnya lah yang sesuai.
Gadis itu kemudian merapikan tas ransel kecil hitamnya, dan berpamitan pada Mom.
"Nikmati konser nya, sayangku." ucap Mom sebelum pergi sembari menurunkan kaca mobil.
"Hm. Pulanglah Mom. Hati-hati dijalan dan terimakasih sudah mengantarku."
Gadis itu kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya menuju tempat acara.
Malam itu udara terasa dingin, dan seperti yang diduga, sangat ramai. Membuatnya sedikit merasa sesak dan ingin mengurungkan niat untuk masuk ke dalam.
Ia tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah wajah manusia yang mendekatinya dari sisi kanan. Gadis itu menengoknya spontan.
"June?" ujar si pemilik wajah.
Gadis itu tersentak.
"Astaga March! Jangan mengejutkan ku seperti itu!"
Si pria menegakkan kembali tubuhnya.
"Kupikir kau tak datang. Nomormu tak bisa kuhubungi. Rupanya karena kau ingin datang sendiri ya?"
Pria itu sepertinya sedikit merajuk. Si gadis dibuat sedikit tertawa oleh sikapnya.
"Maafkan aku. Kebetulan saat itu perasaanku kurang baik. Jadi kumatikan ponsel ku, dan hingga kini belum kunyalakan kembali." balas gadis itu sembari menunjukkan ponselnya yang mati.
Setelah melirik ponsel si gadis, pria itu balik melirik June. March sedikit mengerutkan dahinya kemudian.
"Lalu apa yang kau lakukan diluar sini? Tidak berniat masuk?"
"Entahlah. Begitu banyak..."
"Ayo masuk saja. Aku akan berada di belakangmu June. Kau sudah disini, jadi jangan membuang kesempatan untuk bersenang-senang begitu saja," kata pria itu sambil mendorong pundak si gadis.
Sesampainya didalam, gadis itu diajak berkeliling. Dia melihat ada beberapa lapak makanan dan juga disana, walau keadaan ramai, namun orang-orang tak berhimpitan seperti yang dibayangkan.
Kala itu, si pria nampak lebih antusias dibanding gadis itu sendiri. Dan melihatnya demikian, gadis itu merasa sedikit terhibur.
Mereka berdua kemudian memutuskan melihat konser di bagian bukit, - yaitu bagian sedikit jauh, dimana semua orang yang melihat duduk diatas rumput pendek - karena June belum siap jika harus melihat dari dekat.
"Aku sungguh tak apa sendiri, March. Kau bisa maju kesana jika kau memang ingin," ujarnya.
March menggelengkan kepala.
"Tidak. Jika aku pergi ke depan sana, aku akan membawamu bersama ku."
Pria itu tersenyum.
"Tapi tidak perlu jika memang kamu belum merasa siap," Sambungnya kemudian, sembari menenggak minuman kaleng bersoda yang tadi dibelinya.
Gadis itu menatapnya sebentar, kemudian memalingkan kembali wajahnya.
"Terimakasih sudah mengajak ku keluar rumah dan berbaur kembali dengan orang-orang. Sudah cukup lama sejak aku merasa sehidup ini lagi," ujar gadis itu yang kemudian juga ikut menenggak minumannya. Bukan soda, melainkan cokelat panas.
March menatapnya sembari tersenyum pahit.
"Kau berubah." ucapnya tiba-tiba.
Gadis itu balas menatapnya, sedikit bingung.
"June yang kukenal tak selemah ini. June yang kukenal adalah orang yang penuh percaya diri, dan akan melakukan apapun yang disukai nya, tak peduli apa yang orang pikirkan."
Pria itu memalingkan wajahnya.
"Dia sungguh mengubahmu menjadi orang lain," gumamnya.
Ia kembali menenggak soda nya. Mukanya berubah menjadi merah padam.
Walau gadis itu sedikit terkejut atas kata-kata barusan, namun ia sangat mengerti maksudnya. Ia hanya tak menyadari, jika dirinya memang benar-benar berubah semenjak bersama Rei.
"Baiklah!"
March terbangun dari duduknya. Gadis itu menatapnya.
"Ayo kita maju ke depan sana. Sudah cukup lama kita duduk disini. Aku bosan," lanjutnya sembari mengulurkan tangan.
"Pergilah sendiri, March," balas si gadis sembari mendorong halus tangan dihadapannya.
Namun pria itu justru menariknya.
Mereka kemudian memasuki lautan manusia yang tengah menikmati musik. Gadis itu sedikit panik dan merasa sesak. Namun si pria - yang berada tepat di belakangnya - terus mengajak nya berbicara dan memberinya seluruh keberanian yang ia punya. Gadis itu pun perlahan mulai bisa mengendalikan dirinya. March benar-benar membuatnya merasa aman walau tengah berada di kerumunan.
Lampu panggung beberapa kali lewat menyoroti mata June. Membuatnya sedikit pusing.
Untuk kesekian kalinya, lampu itu berusaha melewati matanya kembali. Tepat sebelum terjadi, gadis itu memalingkan wajahnya ke sisi kanan, dimana lampu tak akan melewatinya.
Benar saja, ia memang terhindar dari lampu panggung yang menyilaukan itu.
Namun ia tak segera mengembalikan posisi wajahnya. Tatapannya nampak kebingungan, dan wajahnya memerah. March yang menyadarinya langsung bertanya pada gadis itu.
"Ada apa June?"
Ia tak menjawab. Dia hanya diam membeku. Pria itu berusaha mencari apa yang dilihat gadis didepannya hingga begitu terdiam.
March kini tahu. Ia menemukannya.
Rei ada ditengah kerumunan. Tak sendiri. Pria itu bersama seorang wanita.
Dan mereka sedang berciuman..

GILA ! Padahal brhrp Rei berubah🙄
ReplyDeleteNice . . Ayo March👍
ReplyDelete