MARCH IN JUNE - HELLO MARCH

 


Cahaya mentari telah berganti rembulan. Hari itu terasa singkat namun sangat berkesan. Diperjalanan kembali pulang, June tak henti-henti menatap Rei. Gadis itu serasa ingin menyimpan memori yang indah ini selamanya.

"Oh iya June.." tiba-tiba pria itu membuka obrolan. June menaikkan kedua alisnya perlahan.

"Apa kegiatanmu sekarang? Kuliah? Bekerja? Kamu tidak hanya berdiam diri kan?" sambungnya.

Pertanyaan itu sedikit membuat si gadis tersentak. Dia terdiam sebentar, kebingungan akan menjawab apa. Sekilas, memori menyakitkan hati sebulan lalu terpampang.

"Aku sedang mencari pekerjaan, Rei," balas June.

"Baguslah. Karena itu akan menggangguku jika kamu tak melakukan apapun."

Mendengar perkataan Rei, June yang sedari tadi memandangi wajah pria itu, akhirnya merotasi kepalanya ke arah jendela. Ia memainkan jemarinya.

Sejujurnya dia tak memiliki rencana akan mencari pekerjaan dalam waktu dekat. Ia ingin melanjutkan sekolah. Tapi gadis itu sadar, untuk sementara waktu ia tak dapat bersekolah di tempat impiannya.

Orangtua gadis itu berpisah saat umurnya tiga tahun. Ayahnya tiba-tiba meninggalkan keluarga kecil itu tanpa kabar. Dan kembali saat June berusia tujuh tahun, dengan seorang wanita yang telah mengandung anaknya.

Mom memiliki usaha di bidang kontraktor. Ayahnya..entah apa kini yang digelutinya. Sudah lama mereka tak saling berkabar.

Dulu gadis itu memiliki segalanya. Namun kini keadaannya sedikit sulit. Tepatnya sejak June berada di tingkat akhir sekolahnya. Tak hanya oleh mantan suami, Mom pun dikhianati oleh mitra kerjanya. Ironi yang pahit.

Gadis itu mulai tersadar dari lamunan sesaat. Mereka telah berada di depan rumahnya. June merapikan tas dan melepas sabuk pengaman.

"Terimakasih untuk hari ini Rei. Aku sangat senang," ucap gadis muda itu sebelum membuka pintu mobil.

Pria itu menatapnya dan mengangguk. Sepersekian detik kemudian, si pria tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke samping kiri pipi June. Mengecup pipi gadis itu kilat.

"Sampai bertemu lain waktu,June. Kau sangat cantik hari ini."

June menatap Rei sedikit terkejut. Pria itu tersenyum hangat. Sudah sekitar dua tahun lalu sejak senyum seperti itu terkembang. Dia sungguh tak menyangka ini adalah harinya. Membuat jantungnya semakin berdebar.

June masih melambai di depan pagar rumahnya, meski kini mobil si pria tak lagi terlihat. Pipi gadis itu merona.

Saat berada di dalam, lampu telah padam, mungkin Mom sudah tidur. Lagipula, ini memang telah larut.

Gadis itu segera naik ke kamarnya dan membersihkan diri. Bahkan setelah semua ritual itu, ia tetap tak merasa mengantuk sedikitpun.

June memutar mutar telepon genggamnya, berpikir akan menelfon Rei atau tidak. Dia ingin menanyakan status hubungan mereka.

Jika dilihat dari sikapnya hari ini, itu adalah sikap ketika mereka masih menjalin hubungan. Namun, gadis itu tak berani terlalu menaruh harapan tinggi.

'rrt...rrt...'

Ponselnya berdering. Bukan sebuah panggilan, tetapi pesan. Ia dengan tanggap membukanya. Itu adalah pesan dari pria yang baru saja dipikirkannya.

'Semoga tidurmu nyenyak supaya besok semangat mencari pekerjaan!'

June mengernyit. Dia berpikir, apa-apaan pesan tadi! Kenapa pria itu selalu mendesaknya untuk bekerja! Sedikit berbeda dengan Rei yang ia kenal dahulu.

Gadis itu sedikit kesal dan terganggu. Dia memutuskan tidak membalas pesan Rei.

"AHH~ Jika tidak begini, aku hanya akan melamunkan hal tidak jelas dan tak akan segera tidur," gerutunya.

'rrt...rrt...rrt...'

Ponsel nya berdering kembali. Kali ini sebuah panggilan masuk.

"Apa maunya sih!" ujarnya sebal sebelum mengangkat telepon.

"Ya Rei? Ada apa lagi? Aku akan tidur..."

"Wow,June. Padahal aku berniat mengucapkan selamat ulang tahun. Namun sepertinya waktunya kurang pas.."

June terbelalak. Itu bukan suara Rei. Gadis itu spontan melihat layar ponsel nya. Dan benar saja, itu bukanlah si pria dalam benaknya, melainkan nomor asing yang belum disimpan.

"Astaga! Maafkan aku.. Ku kira orang lain. Aku tidak menyimpan nomor mu, bisa beritahu siapa kamu dan keperluanmu?" June sedikit gugup.

"Hei tenang June. Tidak apa, tidak perlu terlalu kaku. Yah, walaupun memang aku sedikit kecewa, ternyata nomor ku tidak disimpan. he he he.."

June sedikit bingung. Dia berpikir mengapa pria ini bertingkah seolah akrab dengannya.

"Hmm.. Mungkin bisa beritahu dulu siapa kamu supaya bisa kusimpan nomor mu?" ucapnya sedikit ketus.

Dia tak berniat akan menyimpan nomor lawan bicaranya. Karena ia beranggapan bahasa pria itu kurang menyenangkan di telinganya.

"Tidak. Tidak akan kuberi tahu. Kau harus menebaknya!" goda si pria.

Gadis itu merasa kesal, ia ingin segera mengakhiri saja panggilannya. Namun ia terlalu penasaran untuk disudahi sekarang.

Jika dipikir, suaranya memang terdengar familier. Apa itu teman pria June? Tidak. Gadis itu tak memiliki banyak teman pria. Dan nomor teman pria nya - yang sedikit itu - pun telah disimpan. Jadi mungkin, ini hanya orang iseng.

"Aku akan menutup teleponnya," gretak June.

"Baiklah baiklah... June, kau memang tak pernah berubah sejak dulu. Selalu ketus dan dingin. Inilah yang membuatku tidak pernah bisa mengabaikan mu."

June terkejut. Kata-kata itu tiba-tiba mengingatkannya kepada seseorang. Seseorang yang pernah mendekati nya saat SMA dulu. Seseorang yang tidak pernah sekali pun menyerah, berapa kali pun ia menolaknya. Dialah satu-satunya yang selalu mengucapkan kata kata itu. June yakin itu pasti dia.

"March...?"

Comments

Post a Comment