RAINBOW CHICKEN - CRIMSON

 

Tak disangka, Crimson memang sekelompok dengan Silver. Crimson duduk di bangku ujung sisi kanan. Cukup jauh dari Silver. Sedangkan Greige, si penindas, berada di bangku sisi kiri dan hanya berjarak 3 bangku darinya. Jarak yang terlalu dekat.

Hari pertama adalah sesi perkenalan. Murid-murid di kelas itu dipersilahkan maju sesuai urutan duduk sisi kiri. Dan kini tiba giliran Greige. Gadis itu melangkah dengan wajah congkak dan sikap percaya diri yang begitu jelas terpampang. Tidak mengejutkan, begitulah memang gadis itu sejak dulu.

"Halo semua, aku Greige! Aku lahir pertengahan Oktober saat musim semi. Tinggi ku 170cm, aku suka minum kopi dingin, dan alergi pada debu. Jika kalian ingin berteman denganku, yah aku akan menerima kalian." Begitulah perkenalan gadis congkak ini. Sikapnya masih ke kanak kanakan seperti dulu.

Setelah perkenalan Greige, anehnya tak ada yang memberinya tepuk tangan. Silver heran sebab dulu, saat masih di sekolah dasar, Greige adalah gadis yang semua perbuatan dan ucapannya akan disetujui hampir oleh seluruh murid di sekolahnya. Jadi meski semua tingkahnya sangat menyebalkan, murid murid disekolah itu masih mengikuti ekornya kemanapun Greige pergi.

Kini giliran Silver untuk maju. Sedikit gugup, karena dia bukan pembicara yang baik. Namun dia memberanikan dirinya sendiri. Saat maju, Silver dapat dengan jelas melihat wajah para murid. Ada yang terlihat bosan, ada yang terlihat gugup, ada pula yang terlihat tertarik dengan sesi perkenalan ini.

"Halo. Aku Silver. Senang bertemu dengan kalian." Perkenalannya singkat dan membosankan.

"Apa begitu saja, Silver? Tidak ada hal lain yang ingin dibagikan dengan teman teman baru mu?" Kata salah satu pembina osis pria dengan tubuh besar gempal namun berwajah lembut. Silver sedikit bingung apa yang harus dibagikannya, mengingat ini adalah pertemuan pertama mereka. Silver hanya mencubit cubit jarinya satu sama lain.

"Umm.. Aku suka baca buku dan bermain musik." Sambung Silver singkat.

"Oh benarkah? Alat musik apa yang biasa kamu mainkan, Silver?" Sahut pembina osis yang sama.

"Aku biasa bermain..." Saat akan menjawab, tak sengaja Silver dan Greige bertukar pandang. Wajah Greige sungguh kusut. Alisnya menekuk dalam - tak pasti apakah marah atau bingung - seperti jurang tanpa batas. Tangannya menyilang didepan dada. Silver yang melihat ekspresi itu, tiba tiba mematung. Lidahnya kelu tak dapat bergerak disertai keringat yang mulai menerobos nektar kulit tengkuk lehernya.

"Silver?" Sela pembina osis itu membangunkan Silver dari kebekuan sesaatnya.

"Gitar! Aku biasa bermain gitar." Sahut Silver kemudian. Dia berusaha tak menatap Greige.

"Kalau begitu, bisa kamu tampil untuk acara unjuk bakat di hari terakhir orientasi siswa, Silver?"

"Ya. Bisa..bisa."

"Wah pasti akan seru ya! Tidak sabar menantikan Silver menunjukan bakatnya nanti!" Kata pembina osis itu penuh semangat. Silver sekali lagi tak sengaja bertukar pandang dengan Greige. Kali ini ekspresi nya seperti orang yang sedang jijik. Silver tak tahu mengapa, yang jelas dia ingin segera mengakhiri sesi perkenalan nya.

"Begitu saja. Terimakasih." Sambung Silver singkat dan bergegas duduk. Silver terkejut karena ternyata tepuk tangan untuknya cukup meriah. Dia merasa malu dan canggung. Belum lagi dia malah tak sengaja bertukar pandang dengan Greige.

Beberapa menit telah berlalu, sesi perkenalan ini terlalu lama untuk Silver. Tekanan dan atmosfernya sudah berbeda. Gadis itu ingin segera pulang. Tanpa disadari murid terakhir untuk perkenalan maju kedepan.

"Halo semua! Aku Crimson!" Silver yang sedari tadi melamun tiba tiba tersadar dan menegakkan posisi duduknya.

"Aku sangat senang bisa bersekolah disini. Semua murid disini sungguh keren dan manis. Aku juga tak sabar menantikan bisa berteman dengan kalian semua! Salam kenal ya semua!" Penyampaian yang paling tak canggung selama sesi perkenalan itu.

"Hai, Crimson. Kamu sangat ceria ya. Apa kamu sudah mempunyai teman disini?" Pembina osis bertubuh gempal itu kembali bertanya.

"Ya aku sudah mempunyai satu teman disini!" Gadis itu kemudian menunjuk ke arah depan, sejajar dengan pandangannya.

"Dia. Silver adalah teman pertama ku! Benar kan Silver?" Silver terkejut karena namanya dipanggil. Gadis itu kebingungan menjawab, jadi ia hanya mengangguk spontan.

"Benarkan! Silver sangat lucu jika dia gugup he he. Baiklah semua.. Aku harap kita semua bisa menjadi sahabat seperti aku dan Silver ya!" Gadis itu mengakhiri nya dengan sangat menggemaskan. Silver tak henti tersenyum melihat tingkahnya.

Bel telah berbunyi. Akhirnya sekolah di hari itu telah usai. Beberapa murid nampak terburu buru meninggalkan kelas. Begitupun Silver yang tampak ingin segera pulang. Namun, belum juga gadis itu beranjak dari tempat duduknya, Greige tiba tiba berdiri di hadapannya.

"Kau..Silver yang ku kenal kan?!" Tanpa basi basi, gadis congkak itu menyodorkan pertanyaan nya pada Silver. Silver hanya diam. Matanya sedikit berkeliling, seperti mencari seseorang.

"Ya..dari sikapmu sepertinya memang benar kau gadis yang kukenal." Sambung Greige. Silver hanya meliriknya sebentar dan kembali melihat ke arah lain. Matanya tiba tiba terhenti pada seseorang. Crimson.

Crimson juga belum beranjak keluar dari kelas. Dia membalas tatapan Silver dengan wajah yang serius. Tanpa pikir panjang gadis ceria itu menghampiri Silver.

"Hai! Um namamu Greige ya?" Sela Crimson. Greige seketika menatapnya.

"Greige, maaf menyela, tapi aku berjanji hari ini akan pulang dengan Silver. Jadi, kalau memang urusan kalian sudah selesai, bisa kami pulang sekarang?" Silver menatap Crimson dengan penuh kekaguman. Bagaimana gadis kecil seperti dia memiliki keberanian yang besar? Dia bahkan tetap tersenyum saat mengatakan itu. Dan bahkan Greige saja terdiam dibuatnya.

"Yah. Kalau begitu ayo Silver kita pulang sekarang. Sampai besok, Greige!" Gadis itu menarik lengan kanan Silver. Membuatnya segera bangkit dari kursi.

"Terimakasih.." Ujar Silver saat mereka sudah berada di lantai dasar. Crimson berbalik dan menatap Silver.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian, tapi Silver, ayo beranilah!" Balas Crimson sembari menggenggam tangan gadis itu.

Silver terdiam. Dia merasa benar-benar menyukai gadis ini. Semangatnya, keceriaannya, keberaniannya. Itu adalah pertama kalinya Silver melihat gadis seperti Crimson.

Memiliki seseorang yang benar-benar peduli terhadapnya. Dan bahkan menganggapnya ada.

Silver. Gadis itu tumbuh dengan segala yang diinginkan akan terpenuhi. Namun sesungguhnya, itu bukanlah hal yang ia harapkan. Melainkan perhatian dan kasih sayang orang terdekatnya.

"Crimson..." Kata Silver. Crimson tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya.

"Apa bisa, kita benar benar pulang bersama?" Lanjutnya.

"Tentu! Bukankah kamu memang telah berjanji akan pulang bersamaku pagi tadi? Kamu ini benar-benar pelupa ya ternyata." Goda Crimson.

"Ah benar. Maaf." Crimson kembali tertawa mendengar permintaan maaf Silver. Kedua nya kemudian segera melenggang keluar halaman dan mengambil kendaraan masing-masing.

Crimson mengendarai sepeda merk MARGARITAVILLE FIRST LOOK WOMEN'S BEACH CRUISER BIKE 26-inch. Dengan badan sepeda berwarna krem dan merah untuk keranjang nya. Sepeda yang manis, sesuai dengan Crimson.

"Silver! Mau tidak jika nanti kita berhenti di bawah pohon itu sebentar?" Seru Crimson sambil menunjuk pohon ceri didepan mereka. Silver tampak kebingungan, mengapa mereka harus berhenti. Namun dia hanya mengangguk menjawab pertanyaan Crimson.

"Ada apa Crimson? Apa kamu kelelahan?" Tanya Silver sesaat setelah mereka sampai. Crimson yang baru saja menurunkan penyangga sepeda nya tertawa kecil.

"Tidak Silver. Aku hanya ingin duduk sebentar disini sambil berbagi cerita denganmu. Bukankah tidak seru jika kita langsung pulang di hari pertama kita bertemu?" Kata Crimson.

"Ah begitu. Ya benar juga." Jawab Silver mengangguk setuju.

Mereka kemudian duduk dibawah pohon itu. Crimson duduk di sisi kiri, menyandar di batang pohon, menghadap Silver. Sedangkan Silver duduk di sisi kanan, menghadap sungai di depannya.

"Ah ceri nya sedang tak terlalu berbuah. Lihat, Silver! Hanya ada beberapa buah saja yang tersisa dan itupun di ranting puncak." Gerutu Crimson.

"Ah iya benar juga. Apa kau menyukai ceri, Crimson?" Tanya Silver.

"Hm. Aku menyukai nya. Aku menyukai semua hal dari ceri. Baik buahnya maupun pohonnya. Bisa kau tebak mengapa?" Ucap gadis itu memberi teka teki. Silver mengerutkan dahinya, sejenak berpikir.

"Apa karna buahnya yang manis dan pohonnya yang cukup rindang?" Jawab Silver.

"Ya itu benar juga. Tapi Silver apa kau tahu? Pohon ceri bisa tumbuh dimana saja. Dia bisa bertumbuh di tepi jalan, di tepi selokan, di lapangan, di halaman rumah, bahkan di sela-sela dinding yang terbuka sekalipun. Itulah alasan mengapa aku menyukainya." Jelasnya sembari tersenyum.

"Aku ingin sekali menjadi seperti pohon ceri. Yang bisa tumbuh dimanapun, dan bagaimanapun tempat maupun keadaanya. Dia juga memiliki banyak manfaat. Orang bisa berteduh di bawah pohonnya yang rindang. Jika lapar, kita bisa memakan buahnya. Tidakkah kau setuju denganku, Silver?" Silver menatap gadis itu. Ada perubahan mimik wajah darinya. Crimson yang mulanya menjelaskan mengapa dia menyukai ceri, menampakkan senyum kecil namun dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Dan sesaat kemudian dia kembali ceria seperti semula. Silver kemudian menyadari, bahwa sepertinya dia bukanlah satu satunya disini yang memiliki kehidupan tak semulus dongeng.

Silver membuka tas ransel sekolahnya, mengeluarkan beberapa kue dan juga soda.

"Ini makanlah." Ujar Silver sambil menyodorkan salah satu kue coklat berbentuk bulat.

"Wah, Silver! Terimakasih yaa.." Crimson menerimanya dengan riang. Silver tersenyum dan kembali menatap sungai.

"Greige dan aku.. Kita pernah berada di satu sekolah dasar yang sama." Kata-kata Silver yang tiba tiba, membuat Crimson sedikit terhenti melakukan aktivitas makannya.

"Aku adalah murid baru kala itu. Aku pindah saat kelas 4. Yah awalnya aku tidak terlalu memperhatikannya. Karena aku tak begitu cepat dalam menghapal wajah dan nama seseorang. Tapi suatu hari dia tiba tiba menghampiriku, dan mengancam agar aku tak mencari perhatian." Sambung Silver.

"Apa yang dimaksutnya dengan mencari perhatian? Apa kamu melakukan sesuatu Silver?" Tanya Crimson.

"Saat aku datang, semua orang sangat ramah kepadaku. Mereka semua ingin berteman denganku, akupun tak mengerti mengapa. Ada sebuah kelompok yang penuh dengan gadis pandai dan cantik, mereka mengajakku untuk bergabung dengan mereka. Ada pula kelompok anak laki-laki yang mengajakku berkenalan dan bermain bersama mereka. Aku dari dulu adalah anak pemalu yang tidak pernah bisa memulai sebuah percakapan, namun saat aku di beri kesempatan untuk berteman dengan mereka aku akan menerima nya dengan senang hati."  Crimson mendengarkan dengan serius cerita Silver.

"Dan setelah beberapa waktu, aku akhirnya bisa bergabung dengan banyak kegiatan sekolah. Seperti paduan suara, tari, kesenian, dan lainnya. Namun tiba-tiba, sepulang sekolah, Greige mendatangiku. Sama seperti kejadian tadi. Awalnya aku tidak tahu mengapa dia berkata demikian. Namun ternyata salah satu anak laki-laki di kelompok yang juga temanku itu menyukaiku. Tapi Greige menyukainya."

"Greige beranggapan itu semua terjadi akibat aku terlalu mencolok dan mencari perhatian." Mata Crimson membulat. Gadis itu mendekatkan tubuhnya, dia sangat tertarik dengan cerita Silver.

"Lalu? Apa kau menyukai anak laki-laki itu?" Tanya Crimson lagi.

"Tentu tidak! Dia adalah temanku. Aku juga sudah menjelaskan pada Greige, tapi dia tak percaya dan malah mengancamku. Setelah kejadian itu, Greige benar-benar menjadikanku sasaran empuk untuknya memaki dan menindasku. Dia bahkan memerintah semua orang dalam kelompoknya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya."

"Hah apa gadis itu gila?! Apa tidak ada yang membela mu, Silver? Bagaimana dengan anak laki-laki itu? Dan..Dan kelompok gadis pintar?"

"Anak laki-laki itu tak melakukan apapun untuk ikut menjelaskan keadaannya. Gadis-gadis pintar, mereka memang menemani saat tak ada yang mau bermain denganku. Sesekali mereka juga membelaku saat Greige datang. Tapi jika Greige mengancam, maka gadis gadis itu juga akan menghilang."

"Aku tak mengadukannya pada orang dewasa. Lagipula siapa yang akan mepercayai gadis sembilan tahun? Jadi, aku menahannya selama 3 tahun. Bahkan saat aku memilih SMP pun, Greige dan kelompoknya masih merundungku." Silver terhenti sebentar.

"Bagaimanapun, aku tidak menyalahkan siapapun, itu memang kesalahanku. Aku bersikap seolah kuat dan menahan semuanya. Aku tak bercerita pada seorangpun bahkan guru dan orangtua ku karena ketakutan konyolku. Bahkan saat sepeda ku di guyur sampah, dan keranjangnya dipukul tongkat kasti, aku tidak menangis atau mengadukannya. Hatiku hancur, dan aku ketakutan tapi aku tak bisa berbuat apapun. Hari ini pun, saat aku tau aku kembali satu sekolah dengannya, trauma dan ketakutanku kembali lagi." Silver kemudian menatap Crimson.

"Tapi berkat kau, aku menjadi lebih berani. Terimakasih!" Silver tersenyum dan kemudian menenggak soda yang sedari tadi digenggamnya.

Crimson tiba tiba memeluk Silver dengan mata yang berkaca-kaca.

"Ah, Silver.. Itu pasti sangat berat untukmu.. Aku tidak bisa membayangkan betapa menyakitkannya tidak ada seorangpun yang membantu." Silver terkejut. Crimson menangis untuknya?

"Hei! Sudahlah. Aku sudah baik baik saja sekarang. Maaf membuatmu menangis.." Kata Silver sambil menepuk nepuk tangan Crimson. Crimson kemudian melepas pelukannya dan mengakhiri tangisannya.

"Aku berjanji tak akan meninggalkan mu, Silver! Aku akan jadi sahabat dan juga pohon ceri pribadimu he he." Gadis itu tertawa sambil menghapus air matanya. Silver juga ikut tersenyum.

Hati Silver terasa hangat. Belum pernah dia merasa kehangatan yang seperti ini sebelumnya. Didalam hatinya, Silver juga berjanji akan selalu ada untuk Crimson.

Gadis yang mengubah dunianya yang dingin menjadi lebih hangat.



Comments