RAINBOW CHICKEN - JADE

Beberapa hari berlalu. Sejak hari perkenalan mereka itu, Silver dan Crimson selalu datang dan pulang bersama. Keduanya kini nampak begitu akrab.

"Aku sungguh menantikan penampilanmu kamu tahu," ujar si gadis berkacamata.

Silver nampak sedikit bingung. Dia mengerutkan dahi.

"Penampilan?" ia bertanya.

"Hm! Untuk besok. Bukankah kamu akan bermain gitar sembari bernyanyi?"

"Aku? Apa aku pernah berkata begitu sebelumnya?"

Crimson tergelak.

"Kamu pasti lupa. Saat perkenalan, Silver, kamu mengatakannya."

Silver terdiam. Berusaha mengingat.

"Astaga!"

"Ingat?"

"Aku tak bermaksud berjanji begitu, Crimson. Itu karena aku tak sengaja bertatapan dengan Greige dan gugup."

"Lalu..?"

"Aku harus bagaimana?"

"Tunggu.. Kamu ini memang bisa bermain gitar kan?"

"Ya tentu aku bisa."

Crimson kembali tergelak mendengar jawaban Silver.

"Kalau begitu lakukan saja. Bukankah saat itu kamu bilang padaku, bahwa kini kamu akan menjadi lebih berani?"

Silver terdiam.

"Tidak perlu takut memikirkan hal yang bahkan belum terjadi, Silver. Beranilah dan tunjukan dirimu pada dunia," sambungnya.

Gadis itu tersenyum hangat. Silver tak mengerti, apakah energi gadis itu selalu se positif ini. Keberaniannya seolah terisi kembali.

Hari dimana masa orientasi siswa berakhir telah tiba. Sungguh satu minggu yang melelahkan. Namun Silver bersyukur sebab ia bersama Crimson. Gadis itu membuatnya tak lagi merasa kecil atau terasingkan. Gadis hangat yang penuh dengan keceriaan.

"Jadi, apa yang akan kamu nyanyikan nanti, Silver?" Crimson bertanya.

"Tidak akan seru jika kuberitahu."

"Wah! Sudah bisa menggoda ya rupanya."

Mereka tertawa bersama.

Saat sedang memarkirkan kendaraan, Greige melintas. Gadis itu hanya menatap keduanya sekilas, kemudian melenggang melaluinya.

Kini Greige tak lagi datang menemui Silver. Entah mengapa ia juga tak sepopuler dulu. Kemanapun ia pergi, hanya dilakukannya seorang diri. Keadaan benar-benar telah berubah.

Murid-murid baru berkumpul di aula. Sebagian besar dari mereka nampak telah akrab satu sama lain. Tak terkecuali Silver dan Crimson, yang kini duduk bersandingan.

"Gugup?" tanya Crimson.

"Sangat!"

"Tak apa. Tenang saja, aku yakin semua pasti berjalan lancar," ujarnya sembari menggenggam tangan Silver.

Ketua osis naik ke atas panggung disertai dengan tepuk tangan meriah siswa-siswi.

"Seperti yang kita semua tahu, ini adalah hari terakhir orientasi siswa. Saya, selaku ketua osis, ingin mengucapkan terimakasih atas semangat dan antusias kalian semua dalam menjalankan kegiatan-kegiatan dalam seminggu terakhir."

"Dan juga saya, mewakili seluruh pembina osis disini, ingin meminta maaf sebesar-besarnya. Dikarenakan hari ini, ada jadwal lain yang sangat mendesak, maka untuk unjuk bakat akan ditiadakan," lanjutnya.

Beberapa murid nampak kecewa dan sedikit bersorak, namun sebagian lainnya merasa lega karena mereka dapat segera pulang.

"Baiklah demikian hal yang dapat saya sampaikan. Sampai jumpa lagi."

Begitulah bagaimana hari terakhir orientasi siswa berakhir. Murid-murid nampak segera melenggang pergi dari wilayah sekolah.

Kedua gadis itu pun mengambil kendaraan mereka masing-masing. Tak menaikinya namun berjalan beriringan.

"Kamu tahu? Aku sangat berharap melihatmu tampil," ujar Crimson sedih.

"Aku bisa bernyanyi untukmu kapan saja."

"Benarkah Silver? Kalau begitu bernyanyilah sekarang."

"Bisakah jangan sekarang, Crimson? Aku sedikit malu."

Crimson seketika menghentikan langkahnya dan tergelak hebat.

"Astaga kamu sangat lucu. Baiklah Silver, aku akan meloloskanmu kali ini. Tapi berjanjilah padaku kamu akan melakukannya suatu hari nanti."

Silver tersenyum dan mengangguk.

Suasana pagi sedikit dingin namun mentari begitu cerah menyinari. Itu adalah hari pertama bagi para siswa menjadi murid SMA resmi.

Paras mereka nampak lebih terbiasa dan tak begitu gugup dibanding sebelumnya.

Kali ini Silver dan Crimson tak datang bersama. Mereka memutuskan bertemu di sekolah saja.

"Silver!" teriak gadis berkaca mata itu sembari berlari.

Gadis yang disapanya tersenyum sembari melambai.

"Sudah siap melihat pembagian kelas?"

"Sedikit gugup, tapi tentu!"

Keduanya kemudian berjalan menuju papan pengumuman yang diletakkan di lapangan.

Banyak sekali murid disana. Mereka melakukan hal yang sama seperti yang akan dilakukan kedua gadis itu.

"Sepertinya kita tidak bisa menerobos," ucap Silver sedikit putus asa.

"Omong kosong! Tunggu disini. Aku akan maju."

Tanpa pikir panjang, gadis kecil itu maju. Dan dengan mudahnya, ia membelah lautan manusia yang begitu tampak mustahil ditembus oleh Silver. Bahkan dari kejauhan, Silver samar-samar dapat melihat kepala sahabatnya itu.

Beberapa menit berlalu, Silver mulai gugup dengan hasilnya. Crimson tak kunjung kembali.

"Aku mendapatkannya!" seseorang berseru disampingnya, membuat gadis itu sedikit tersentak.

"Astaga, Crimson! Bagaimana kamu bisa keluar? Aku tak bisa melihatmu dengan jelas dari sini."

"Pokoknya aku bisa mendapatkan hasilnya."

"Hasil? Apa kamu mengambil kertasnya?"

"Aku memotretnya di ponselku, Silver. Aku tak bisa melihat jelas, jadi disinilah pengumuman itu berakhir. he he.." gadis itu terkekeh bangga sembari mengayun-ayunkan ponselnya.

Silver ikut tersenyum dibuatnya.

"Pintar sekali! Kalau begitu ayo kita lihat bersama hasilnya!"

Keduanya kemudian sibuk mencari nama mereka di antara ratusan yang tercantum disana.

"AKU MENEMUKANNYA!" Crimson kembali berteriak.

"Dimana?"

"Kita sekelas Silver!"

"Wah ternyata benar!"

Begitu heboh hingga tak sadar beberapa murid melirik mereka.

Keduanya kemudian melenggang masuk ke dalam kelas dengan penuh suka cita, seolah baru saja memenangkan lotre.

"Kita duduk bersebelahan ya, Silver."

Gadis yang diberi pertanyaan itu mengangguk yakin.

Didalam kelas, terlihat beberapa murid telah mengisi tempat duduk bagian tengah hingga belakang.
Kebanyakan yang tersisa hanya baris depan.

Keduanya kemudian memutuskan duduk di tempat kosong tersebut, tepatnya sisi kanan. Silver menata barang-barang, dan bermain ponsel setelahnya.

"Hai! Salam kenal. Aku Crimson, mari berteman."

Silver spontan merotasi kepalanya ke arah Crimson. Ia sedang berkenalan dengan seorang gadis yang duduk di ujung baris.

Gadis itu berkulit putih dengan wajah sedikit oriental, berambut cokelat gelap panjang, dan memegang handycam merk SONY yang sepertinya bukanlah keluaran baru.

"Hai! Aku Jade. Senang bertemu denganmu."

"Jade, kenalkan ini sahabatku, Silver. Silver ini Jade."

Silver sedikit terkejut sahabatnya itu tiba-tiba memperkenalkan mereka berdua.

"Hai Silver," gadis itu tersenyum.

"Ah hai Jade," Silver balas menjabat tangan Jade.

Silver melirik Crimson. Gadis itu tersenyum, terlihat senang.

"Jadi kamu suka memotret ya, Jade?"

"Benar sekali! Namun yang kamu lihat ini, untuk merekam saja. Aku tak membawa kamera untuk memotret kali ini."

"Begitukah? Apa yang biasanya kamu rekam atau potret?"

"Hm.. Sejujurnya apa saja, aku sepertinya tak memiliki kriteria tertentu. Karena aku lebih menyukai memori di tiap gambar yang ku abadikan. ha ha.."

"Benar juga, Jade. Baiklah karena kita kini telah berkenalan, itu tandanya kita akan menjadi sahabat. Jadi bersiaplah kamera mu itu nantinya akan penuh dengan memori kita bertiga. Benarkan Silver?"

Mereka kemudian tertawa bersama.

Silver merasa, Jade adalah gadis yang apa adanya dan ceria sama seperti Crimson. Namun ada sisi dimana Jade nampak lebih tertutup dan suka menyendiri sama seperti dirinya.

"Mau pulang bersama Jade?" seperti biasa, Crimson sangat ahli dalam hal ini.

"Tentu saja! Kita juga bisa mengenal lebih dekat lagi."

"Benar sekali! Kamu tak keberatan kan, Silver?"

"Ya..ya tentu saja. Aku juga sangat senang bisa pulang bersama."

Bel pulang telah berbunyi. Ketiga gadis itu nampak mengambil kendaraan mereka masing-masing.

Jade menaiki sepeda bermerk SIXTHREEZERO EVRYJOURNEY STEEL WOMAN HYBRID CRUISER BIKE, berwarna biru langit. Sangat cocok untuknya, mengingat gadis itu adalah yang paling tinggi diantara dua sahabatnya.

Seperti sebelumnya, Crimson mengajak keduanya berhenti di bawah pohon ceri.

"Aku selalu kemari dengan Silver. Kini karena kamu juga bagian dari kami, ini menjadi tempatmu juga."

"Benarkah? Terimakasih! Seharusnya hari ini aku membawa kamera ku yang satu lagi."

"Tak apa.. Kamu bisa membawanya besok," Silver menyahut.

Jade mengangguk.

"Kalau begitu hari ini, aku akan mengabadikannya dengan handycam ku. Kalian tak keberatan kan?"

"Tentu saja tidak!"

"Ya.. Aku pun tak keberatan."

Jade kemudian menyalakan kamera yang digenggamnya. Merekam seluruh kegiatan mereka disana.

"Jade?"

Jade menoleh kearah gadis berkacamata itu.

"Sejak kapan kamu menyukai kamera?"

"Hm.. Mungkin saat aku smp.. Entah akupun tak ingat pasti. ha ha," dia terkekeh.

"Yang ku ingat adalah, bahwa aku sadar aku tak ingin kehilangan memori-memori indah."

"Apa pernah terjadi sesuatu?" Silver bertanya.

"Tidak. Hanya saja, aku merasa akan sangat menyenangkan jika kamera membantu tugas kita dalam menyimpan sebuah kenangan. Kita tentu tak dapat mengulang hal yang sama bukan? Sebab itu, adanya benda ini sangat membantuku untuk memutarnya sewaktu-waktu, terutama jika kita sedang merindukan momen tersebut," jelasnya.

Kedua sahabatnya mengangguk setuju.

Silver merasa, kehadiran Jade membuat persahabatan mereka terasa lengkap. Ia dapat mengimbangi Crimson yang begitu ceria dan bahkan dirinya yang tertutup. Dia juga bicara dan bertingkah apa adanya, tak melebih-lebihkan.

Persahabatan seumur jagung itu tampak sangat manis dan hangat. Semoga semesta membuat ikatan itu tetap terjaga hingga waktu yang tak terhingga.

Comments

Post a Comment