RAINBOW CHICKEN - SILVER

 

Itu adalah bulan Juli yang sungguh terik. Musim panas kali ini sedikit berbeda dari biasanya. Setidaknya bagi Silver. Baginya, perbedaan ini bukan hanya karena teriknya yang lebih menyengat dibanding musim panas tahun lalu, namun juga karena hari ini, dia resmi menjadi murid SMA. Membuat perasaannya menjadi lebih berdebar-debar dibanding biasanya. Silver, adalah seorang gadis berumur 15 tahun. Kulitnya coklat, bermata tajam dengan rambutnya yang hitam panjang terurai beserta poni penuh.

Gadis itu pergi ke sekolah dengan mengayuh sepeda jenis SCHWINN HURON ADULT BEACH berwarna hitam. Dia mengayuhnya penuh semangat. Seolah tak ingin memulai debutnya menjadi siswi SMA dengan catatan kurang baik. Di dalam benaknya, Silver merancang skenario untuk berkenalan dengan murid baru nanti. Mimpinya adalah, membentuk kelompok dengan 3 orang didalamnya, tak lebih. Semoga semesta memberinya keberanian.

Silver juga berharap tak bertemu kembali dengan temannya dari sekolahnya terdahulu. Karena, Silver benar2 ingin memulai lembaran baru kali ini. Menjadi lebih percaya diri dan memiliki sahabat. Kemudian mengembangkan sayapnya selebar mungkin, dan dengan begitu Silver akan memiliki masa SMA yang penuh dengan kenangan indah.

15 menit jarak yang harus ditempuhnya. Kini, gadis itu telah berada didepan pagar sekolah. Menatapnya, tersenyum lebar sambil berusaha mengambil oksigen. Setelah dirasa yakin, dia kembali mengayuh sepedanya masuk. Menyapa penjaga sekolah dengan ceria dan bersenandung kecil kemudian.

Matanya berusaha menangkap seluruh pemandangan sekolah. Sekolah itu cukup besar, halamannya sungguh luas dan ada beberapa pohon pembatas antara tepi lapangan dengan jalan menuju ke dalam sekolah. Tiba-tiba kayuh gadis itu melambat. Matanya menangkap murid2 baru lain yang juga melenggang masuk ke dalam sekolah, membuat jantungnya sedikit berdebar. Gugup, cemas, dan bahagia.

'ding dong' Bel sekolah berbunyi. Silver segera memarkirkan sepeda hitamnya. Dia kemudian merapikan seragam dan rambutnya. Tangan kanannya tergerak ke dada kiri nya. Jantungnya masih berdebar, namun kemudian dia membuang kasar nafasnya dan mengangguk kecil. Tanda bahwa dia siap memulai debutnya.

Murid-murid baru - seangkatan Silver - berbaris rapi di lapangan dalam sekolah.

"Wah.. besar sekali sekolah ini.." gumam Silver.

Matanya kemudian melirik ke sebelah kanan ruangan, ada deretan osis berdiri disana. Mereka terlihat seperti siswa-siswi teladan yang bahkan tak pernah sekalipun terlambat datang ke sekolah. Sedang di sebelah kiri, ada jajaran guru. Dan kepala sekolah sedang memberi kata sambutan. Silver bersyukur upacara penyambutan ini tak dilakukan di lapangan luar. Karena dia mungkin tidak akan tahan dengan terik yang seperti itu.

"Baiklah, setelah ini akan ada istirahat selama 10 menit di ruang kelas masing2 kelompok. Nama2 yang akan dipanggil berikut, silahkan maju ke depan untuk pembagian kelompok." Ujar ketua osis yang baru saja bergantian dengan kepala sekolah untuk memberi pengumuman. Ini adalah saat yang tepat untuk Silver menemukan teman barunya.

Silver mengamati satu persatu murid yang dipanggil untuk kelompok 1. Tatapan nya tajam seolah ada belati didalamnya. Dia sedang memilih siapa yang akan diajaknya membentuk kelompok. Ini adalah momen penting baginya. Karena kelompoknya nanti, harus lah orang orang yang se tipe dengan Silver.

Gadis pertama, berambut coklat dan matanya  cerah. Tidak, Silver tak menyukai nya. Senyumnya terlihat palsu. Gadis kedua, hidungnya tinggi, kulitnya putih gading. Tidak, Silver juga tak menyukai nya. Terlalu pendiam sepertinya. Gadis ketiga, telinganya seperti peri, dia juga memakai kacamata. Namun, tidak, Silver tidak suka. Terlihat kaku.

Gadis ke empat, rambutnya mengombak dan panjang terurai, matanya bulat almond dan ada sedikit noda pigmen di pipinya. Silver mengamati gadis itu. Bukan karena ia tertarik, namun wajahnya seperti tak asing. Setelah beberapa detik mengamati, mata Silver terbelalak kaget. Ya, benar Silver mengenali gadis itu.

Itu adalah Greige. Ketua kelompok dari gadis-gadis yang pernah menindasnya dulu.

Udara tiba tiba terasa dingin. Padahal tak ada hembusan angin sedikitpun. Melihat Greige membuatnya terpaku. Dahinya sedikit lembab dan tangannya ikut bergetar. Silver bahkan melewatkan beberapa gadis yang maju setelah Greige.

Bagaimana bisa semesta menguji nya seperti ini? Satu sekolah dengan seseorang yang pernah menindasnya benar benar diluar rencana. Bukan ini yang diingkan Silver. Setidaknya Silver berharap tak berada satu kelompok dengan gadis itu.

"SILVER!" Belum juga habis rasa takutnya, semesta sekali lagi menguji nya. Namanya terpanggil. Ini berarti mereka akan berada dalam kelompok yang sama. Tapi bagaimanapun buruknya situasi ini, Silver tidak bisa mundur. Pilihan hanya maju dan menghadapi nya.

Ya, kini situasi nya jauh berbeda dengan dulu. Ini adalah lembaran baru. Dia tak boleh menyerah. Silver yang beberapa menit lalu sangat ketakutan, berubah menjadi sangat percaya diri. Langkahnya tegas dan pandangannya hanya lurus kedepan.


Seluruh kelompok telah selesai dibagikan. Masing masing dari mereka juga telah berada di kelas. Meja dan kursi di atur melingkari ruangan. Silver memilih tempat duduk di tengah ruangan. Dengan anggapan ingin mengamati gadis gadis yang tadi terlewat olehnya.

Istirahat 10 menit telah dimulai. Para murid baru, menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Ada yang sudah membentuk kelompok, ada yang masih duduk menyendiri. Silver mengamati semua satu persatu. Di dalam kelas tak banyak gadis yang tersisa. Hanya ada 2 orang. Itu adalah gadis pertama dan ketiga yang tadi telah gagal seleksi pribadi Silver.

Silver memutuskan untuk mengamati di luar kelas. Gadis itu memasang headphone hitam dan berdiri di samping tangga. Banyak sekali murid baru disana. Ada seorang laki laki dan perempuan yang nampak akrab - seperti sedang menjalin hubungan - padahal baru saja mereka bertemu. Ah, mungkin saja mereka sudah saling kenal sebelumnya.

Ada seorang gadis dengan rambut sebahu yang sedang memakan roti lapis dan bermain ponsel, duduk seorang diri di depan pintu kelas. Ada pula kumpulan gadis tinggi dengan rok pendek yang tertawa terbahak bahak. Melawak sesuatu yang jelas terdengar sangat membosankan di telinga Silver. Silver sedikit kesal karena tak satupun dari mereka dirasa cukup layak berteman dengannya. Sungguh, ini seperti tak berbeda jauh dengan pemilihan pimpinan negara.

'tuk tuk' sebuah tangan tiba tiba menepuk pundak Silver. Membuatnya sedikit tersentak. Silver merotasi kepala nya ke arah dimana tangan itu mengetuk pundaknya. Seorang gadis berdiri disana. Gadis itu tersenyum hangat. Kulitnya kuning bersih sekali, badannya kecil namun berkaki panjang. Memakai kacamata, dan berambut panjang bergelombang se dada.

Gadis itu tak kunjung bicara, hanya tersenyum. Dia kemudian memberi kode agar Silver melepas penyumbat telinganya. Silver yang sadar seketika melepas headphone nya.

"Halo! Aku Crimson! Siapa namamu?" Gadis itu menyodorkan tangannya. Silver sedikit terkejut karena betapa terus terang nya dia. Silver kemudian membalas jabatan tangan gadis itu.

"Aku Silver." Walau setelah itu Silver tersenyum, namun senyum nya serasa canggung. Crimson yang melihatnya, tertawa tiba tiba. Silver menaikkan kedua alisnya.

"Kamu sungguh lucu. Tenang saja, ini bukan tes ujian masuk sekolah. Ini hanya sebuah perkenalan, jadi tidak perlu canggung begitu." Kata Crimson. Silver tersenyum malu. Dia tidak menyangka, aura kecanggungannya bisa dirasakan gadis ini.

"Baiklah Silver, karena kita telah berkenalan, jadi sekarang kau adalah temanku! Oke?"

"Maaf tapi boleh aku bertanya, dari kelompok mana kamu?" Tanya Silver kemudian.

"Kelompok 1. Kita satu kelompok, Silver. Aku berada tepat di barisan belakangmu tadi. Kamu pasti melamun kan?" Ujar gadis itu sedikit menggoda.

"Ah benarkah? Maafkan aku. Aku tidak menyadarinya." Silver sedikit panik dan merasa tidak enak. Sungguh pembicaraan yang sangat kaku. Silver bukanlah pembicara yang baik.

"Oh ya, Silver. Sejak tadi, aku melihatmu, kamu seperti sedang mengamati siswa-siswi disini. Pasti karena kamu ingin berteman tetapi tak bisa memulai nya? Apa aku benar?" Tanya gadis itu kemudian. Silver sedikit terkejut, karena bagaimana gadis itu mengetahuinya? Apa begitu nampak?

"Apa terlihat jelas?" Ujar Silver balik bertanya.

"Hm! Terlihat sangat jelas." Jawab gadis itu sembari tetap tersenyum. Silver hanya berdiri dengan canggung. Dia tak tahu lagi harus berkata apa. Untungnya, Silver diselamatkan oleh bel masuk yang telah berbunyi.

"Wah cepat sekali bel berbunyi! Omong-omong, apa mau pulang bersamaku nanti?" Gadis itu tiba-tiba mengajak Silver untung pulang bersama. Ini pertama kalinya untuk Silver. Jadi dia sedikit bingung, apakah hal seperti ini normal padahal ini adalah pertemuan pertama? Silver kemudian hanya mengangguk menjawab pertanyaan Crimson.

"Benar? Wah senangnya! Kalau begitu sampai jumpa nanti ya!" Gadis itu kemudian melenggang masuk ke dalam kelas.

Crimson adalah gadis yang sangat ceria. Senyum nya indah. Crimson juga tak bertele-tele saat berbicara. Selama pengamatan Silver, tingkahnya seperti gadis yang suka menggoda, namun itu bukan godaan centil yang menjijikkan. Silver menyukai nya. Dia sangat manis. Sejenak Silver berpikir, mungkin penilaian bahwa dia hanya akan cocok dengan seseorang yang mempunyai sifat sama dengannya adalah salah.

Atau mungkin hanya Crimson yang menjadi pengecualian?

 

Comments

Post a Comment